Ketika ku memandang bunga

Sekitar 1 bulan lalu, dengan tidak ada rencana sebelumnya aku melangkahkan kaki ke Cikal USU. Ingin mendapat “sesuatu” penyegar hati, aku berjalan hingga ku berhenti di Auditorium USU. Menikmati heningnya suasana saat itu, ditemani dengan tiupan angin yang menyiratkan kehampaan hatiku.

Saat ku merenung sambil ditemani lantunan musik dari handphone, kegiatan ku tersebut terusik dengan kehadiran “sepasang” (mungkin) kekasih. Kuhelakan nafas dan beranjak pergi, mencari ketenangan di lain tempat. Ternyata di areal Auditorium USU ini sangat enak ketika saat-saat sepi.

Sambil berjalan-jalan, perhatianku tertuju kepada kumpulan bunga (berwarna merah). Kesentuh dengan jemariku daun bunganya, lembut terasa. Kupetik satu buah, sambil kutatap aku kemudian berjalan kembali. Penat yang ada di pikiranku mengajak ku untuk mencari, adakah hikmah yang dapat kuambil dari bunga ini.

Lalu ku mulai memikirkan dan mengamat-amati akan bunga.

Bunga itu diciptakan beraneka ragam, baik bentuk dan warnanya.
Bunga itu umumnya bertekstur lembut.
Bunga itu mudah rusak, coba saja kamu genggam, ia akan mudah terkoyak, terluka.

Jika bunga itu adalah gambaran dari hati yang tiap-tiap kita miliki, maka,

Setiap manusia yang ada dimuka bumi ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda, ia beraneka ragam, baik bentuk dan warnanya.
Hati tiap manusia diciptakan baik adanya. Seburuk, sejahat, sekasar apapun dia tertempa sedemikian rupa. Selalu tersimpan kelembutan.
Maka, ibarat bunga yang sedang ada di tanganmu, demikianlah engkau memiliki pengaruh terhadap manusia-manusia yang berinteraksi dengan kamu. Akankah sedikit atau banyaknya kamu membuat hati itu terkoyak, ataukah kamu senantiasa berlaku baik. Bahkan jika dia seburuk-sejahat-sekasar apapun kelembutan yang tertidur akan bangkit terbangun.

“Mari kita sejenak mengalihkan pandangan pada “bunga-bunga” yang ada di sekeliling kita. Bunga itu beraneka ragam, baik bentuk dan warna. Bunga itu juga lembut terasa jika disentuh pada umumnya. Namun ia rentan, mudah terkoyak.
Yah, mungkin kita bisa ibaratkan bunga itu sebagai “hati”, tiap hati manusia memiliki aneka ragam “bentuk”,  segala sesuatunya indah berwarna-warni. Yang boleh jadi kita tidak sukai (karakter-sifat-dll).N amun, setiap orang menyimpan sisi “kelembutan” di hati mereka. Ingat, bahwa hati itu juga rentan, mudah terkoyak. Ibarat bunga yang sekarang berada di tangan anda,Anda memiliki pilihan dalam memperlakukan bunga itu seperti apa.”

About wirasihombing

At present, I was a man who has graduated from my college in January 2011. Still looking for a job, trying to go abroad. In my body, flowing the Batak's blood. View all posts by wirasihombing

2 responses to “Ketika ku memandang bunga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: